Sunday, April 8, 2012

FENOMENA GERAKAN RAKYAT BENGKULU DI KOMUNITAS FACEBOOK

Perkembangan media online (internet) telah memberi kemudahan bagi setiap orang untuk berhubungan dengan waktu yang cepat, mudah, massive dan efisien. Internet memungkinkan siapapun untuk berbagi ide dan mendiskusikan tentang segala hal dari yang hanya bersifat keseharian hingga hal-hal yang lebih serius tanpa dibatasi oleh jarak, ruang, dan waktu. Kecanggihan teknologi internet ini mampu memberikan alternatif bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat dan tanggapannya atas berbagai isu yang ada. Jika selama ini penyampaian pendapat masyarakat terbatas pada suara anda, surat pembaca, kotak-kotak saran yang tersedia di berbagai fasilitas umum maka keterbatasan tersebut mampu ditembus oleh kecanggihan teknologi ini.
Hal ini juga terjadi di Provinsi Bengkulu yang saat ini sedang mengalami ‘demam’ jejaring sosial khususnya Facebook yang telah bertransformasi menjadi gerakan massa melalui komunitas online. Puluhan group yang mengatasnamakan komunitas Bengkulu bermunculan dengan membawa misi-misi yang hampir mirip yaitu menyatukan warga Bengkulu baik yang berdomisili di Bengkulu ataupun di perantauan untuk bersama-sama menyampaikan aspirasi perubahan untuk perbaikan Provinsi Bengkulu.  Perasaan kecewa kepada kekuasaan atas apa yang telah dan sedang terjadi di Provinsi Bengkulu menjadi salah satu pemicu berkembangnya berbagai komunitas online ini. Sangat dimaklumi, karena melalui komunitas ini mereka bisa menyampaikan apapun yang mereka rasakan dan inginkan tanpa harus melalui jalur birokrasi yang panjang, langsung saat itu juga.

Semua umur, dengan berbagai macam latar belakang pendidikan dan pekerjaan, bersatu bersama menyuarakan pendapat di sini. Kemudahan akses yang tidak harus melalui komputer, melainkan cukup dengan handphone, menjadikan jejaring sosial seperti Facebook sebagai media yang sangat fleksible bagi warga Bengkulu karena bisa digunakan kapanpun dan dimanapun. Sesekali memang terjadi perdebatan sengit  mengenai satu isu yang mengharuskan admin menjadi moderator yang bijak dan bisa menengahi membernya. Hilangnya sekat-sekat antara golongan menjadikan arus diskusi yang terjadi di dunia jejaring sosial mengalir tanpa terbendung mengikuti trend topic yang ada. Bahkan, jika memang takut akan mendapatkan interpensi dari pihak yang berkuasa, kita bisa dengan gampang membuat akun 'kloningan' dengan identitas palsu.
Fenomena jejaring sosial ini memang semakin menglobal dalam satu dasawarsa terakhir. Bahkan data dari checkbook.com menyebutkan pada tahun 2011 terdapat 670 juta pengguna facebook dari seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 250 juta orang login setiap hari dan 50% mengecek facebook ketika mereka bangun tidur. Sementara Indonesia sendiri menjadi negara pengguna Facebook terbesar kedua di dunia setelah Amerika. Ini menunjukan bahwa facebook sudah menjadikan penggunanya seperti kecanduan. Perasaan akan ketinggalan informasi, atau sekedar ingin mengetahui update status teman ataupun group semakin memperkuat posisi facebook sebagai salah satu dari 5 situs besar dunia yang paling sering diakses.
Kembali ke fenomena facebook di Provinsi Bengkulu. Kemunculan berbagai komunitas seperti Komunitas Peduli Bengkulu, B.O.N.G, Komitmen Anti Korupsi dsb telah memberi warna baru dalam era berdemokrasi di tanah Bengkulu. Setiap persoalan dan fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, dengan up to date bisa diketahui dari postingan membernya di group. Contohnya saja persoalan Tugu Merdeka Bengkulu yang  dirobohkan dan sampai sekarang dibiarkan menjadi semak belukar, atau rencana penghapusan tabot yang dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam, dan yang terhangat kasus video mesum yang dilakukan oleh siswa SMP di Bengkulu. Beberapa persoalan tersebut telah menjadi trend topic yang dibicarakan di komunitas-komunitas ini. Member dengan leluasa memberikan pendapat dan atau mengkritisi setiap persoalan tersebut baik yang setuju ataupun yang kontra. Biasanya yang paling sering menjadi pembicaraan adalah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan masyarakat (khususnya member).
Disamping itu, khusus untuk member yang berada di perantauan, keberadaan komunitas Bengkulu di Facebook ini juga bisa sedikit mengobati kerinduan akan kampung halaman melalui berbagai cerita yang diposting dan juga foto-foto yang bisa diupload dengan bebas oleh setiap member. Sesekali, penggunaan bahasa daerah menjadi daya tarik tersendiri untuk sekedar bercanda dan bernostlagia. Bahkan penggunaan bahasa daerah Bengkulu yang beranekaragam semakin menunjukan ke-Bhineka Tunggal Ika-an yang dimiliki Provinsi Bengkulu. Dalam hal pemenuhan kebutuhan akan informasi dan pendidikan ternyata Komunitas Facebook ini juga dapat menjadi alternatif. Banyak informasi menarik dan berguna yang bisa didapatkan di group-group Facebook tersebut. Contohnya saja informasi mengenai sejarah dan tempat-tempat wisata Bengkulu yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya ternyata bisa kita dapatkan dengan mudah di sini.
Keberadaan komunitas Facebook ini tentunya tidak bisa dianggap remeh oleh pihak Pemerintah Daerah Bengkulu. Komunitas ini bisa berubah menjadi gerakan massa yang dapat saja menggulingkan otoritas dengan efektif. Tanpa harus melalui aksi masa berupa demonstrasi langsung ke lapangan, penyampaian aspirasi yang dilakukan di facebook bisa saja akan berpengaruh kepada kelanggengan kekuasaan. Opini yang dibangun bersama, kemudian disampaikan secara berantai antara member dan juga orang diluar member komunitas, akan mampu membentuk gerakan anti pemerintah yang efisien.  Apalagi saat tindakan pemerintah dianggap menyalahi rasa keadilan, maka berbagai pemikiran akan langsung dikemukakan melalu comment di group atau status di facebook. Masyarakat akan menjadi lebih kritis dan pada akhirnya bisa diorganisir untuk turun ke jalan melakukan demonstrasi dan penggalangan massa apabila kesamaan aspirasi tadi semakin menggejolak  menuntut untuk segera dipenuhi oleh pihak penguasa.
Tentunya kita masih ingat dengan kasus Bibit-Chandra yang pada akhirnya bebas setelah mendapatkan dukungan dari jutaan rakyat Indonesia melalui facebook. Atau “Koin untuk Prita’ yang menghadapi tuntutan dari RS Omni Jakarta. Di luar negeri, masih segar dalam ingatan gerakan Un Million Voces Contra Las FARC di Kolombia tahun 2008 dan bagaimana tergulingnya pemimpin Tunisia Ben Ali dan pemimpin Mesir  Hoesni Mubarak  yang semuanya dimulai dari gerakan massa yang diorganisir melalui Facebook.
Sebaliknya, Pemerintah juga bisa memanfaatkan jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter untuk mensosialisasikan kegiatan pemerintah kepada masyarakat. Sehingga saat kebijakan tersebut diterapkan, tidak akan terjadi penolakan yang begitu keras karena sebelumnya sudah disosialisasikan terlebih dahulu. Berbagai kritikan yang disampaikan masyarakat secara langsung melalui facebook akan sangat berguna bagi pemerintah kedepannya jika bisa menyerap berbagai aspirasi tersebut. Karenanya, para Pejabat Daerah, Anggota Dewan dan pengambil kebijakan lainnya sudah selayaknya  ikut bergabung di Komunitas Facebook ini agar bisa semakin dekat dengan rakyat. Jangan hanya membutuhkan rakyat saat Pileg atau Pilkada saja. Apalagi di DPRD terdapat kegiatan penyerapan aspirasi yang akan sangat efisien dilakukan melalui media online terutama di daerah perkotaan yang sudah lebih melek tehnologi.
Selain itu, untuk peserta Pilkada/ Pileg, atau person yang ingin mencari massa, keberadaan berbagai komunitas di Facebook dapat menjadi sarana efektif untuk sosialisasi dan menjaring massa. Tentunya kemampuan berkomunikasi di dunia maya dan menjaring aspirasi yang berkembang sangat diperlukan saat melakukan sosialisasi di jejaring sosial. Kepandaian beretorika dan mempengaruhi member melalui permainan kata-kata sangat diperlukan apabila ingin mendapatkan simpati. Karena jika salah kata, malah bisa menimbulkan perasaan antipati bagi si calon dan efek yang tidak akan menguntungkan lainnya. (Ahmad Medapri H)

No comments:

Post a Comment