Sunday, November 6, 2011

THE IMPACT OF OIL PALM PLANTATION TO THE ROAD CONDITIONS IN THE PROVINCE OF BENGKULU


Bengkulu is one of the provinces in Sumatra with an area of 21.168 km².  It is on the southwest coast of the island of Sumatra, and borders the Provinces of West Sumatra, Jambi, South Sumatra and Lampung. The capital and largest city is Bengkulu city. This area, largely functioned as agricultural land. This makes Bengkulu, also known as the plantation areas which has vast and fertile agricultural land. Some agricultural products derived from Bengkulu are Coffee, Cocoa, Oil Palm and Rubber. Unfortunately, much of this agricultural production was not matched with adequate infrastructure. One of the important facility is the road that used as a means of  outcomes plantation transport . This condition is very concerning because more than half of the roads in Bengkulu have been damaged.

 
Base on the table we can see that the increase in palm oil production in Bengkulu Province matched by a reduction in the percentage of poor people. In the last five years, an increase in palm oil production in Bengkulu province are quite significant. When in 2006 the production  as much as 373.815 tons, in 2010 the production of palm oil increased by almost 100 percent to reach 615.624 tons (Source: Statistics of  Indonesia Plantation 2009-2011). Whereas, the percentage of poverty in the Province of Bengkulu the steadily declining from year to year. When in 2006,  23% of the population of Bengkulu is in the poor category, by 2010 this number was reduced to 18.30%. This occurs because in this time more people are interested in farming  palm oil to get  the potential income which is very promising.  Previously, farmers in Bengkulu focus on coffee, rubber and cocoa. But in a last decade they switched become oil palm farmers.

Saturday, November 5, 2011

KEMBANGKAN KAWASAN WISATA PANTAI PANJANG DENGAN METODE SKAMPER

TULISAN INI TELAH DIMUAT DI MEDIA ONLINE : www.kabarbengkulu.com

Pantai Panjang Bengkulu
Pantai Panjang adalah salah satu objek wisata yang ada di Provinsi Bengkulu. Lokasi yang strategis (sekitar 1,5 km dari pusat kota), hamparan pasir putih dan cemara pantai sepanjang 7 km menjadikan Pantai ini sangat menarik untuk menjadi objek  wisata andalan daerah ini. Meskipun  Pemerintah Daerah telah melakukan upaya pembenahan dan penataan kawasan pantai dengan membangun Sport Centre dan Pusat Perbelanjaan serta penginapan, namun pada kenyataannya kawasan ini masih belum mampu menghasilkan devisa untuk daerah khususnya dari sektor pariwisata. Wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini, kebanyakan hanyalah wisatawan lokal dan daerah tetangga yang datang secara musiman (misalnya saat lebaran). Untuk itu, sangat perlu diadakannya perubahan yang dapat menambah arus kunjungan wisata ke daerah ini.

Salah satu langkah yang sangat ampuh untuk memicu pemunculan ide-ide baru, cara-cara baru dan pola-pola baru yaitu metode SKAMPER (Subtitusi, Kombinasi, Adaptasi, Modifikasi, Penggunaan lain, Eliminasi dan Reserve/pengaturan ulang). Metode ini diperkenalkan oleh Alex Osborn dan diperkaya oleh Bob Eberle. Melalui metode ini diharapkan akan tercipta satu perencanaan baru terhadap penataan kawasan wisata Pantai Panjang ini. 

Sunday, October 30, 2011

MASIH PERLUKAH PILKADA?

Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan perwujudan Pasal 18 ayat 4 Perubahan Kedua UUD 45 yang berbunyi "Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintahan Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota dipilih secara demokratis." Sebagai tindaklanjutnya dikeluarkanlah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Pilkada yang Demokratis artinya semua pemilih dapat menggunakan hak suaranya tanpa ada tekanan dari pihak manapun, sehingga pemilih akan lebih bebas, rasional, obyektif dan logis dalam menggunakan hak pilihnya. Dengan demikian akan didapatkan figur seorang Kepala daerah dan wakilnya yang mampu mengembangkan inovasi, berwawasan ke depan dan siap melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu Kepala daerah terpilih memiliki kedekatan dengan rakyat karena memang telah dipilih langsungoleh rakyat. Rakyat sebagai pemilih, secara tidak langsung turut bertanggungjawab dan harus menerima konsekuensi atas pilihannya tersebut.

Faktanya, selama ini Pilkada langsung masih jauh dari cita-cita demokrasi yang diinginkan. Pemimpin yang diharapkan berkualitas dan dekat dengan rakyat karena merupakan cerminan dari suara rakyat terbanyak, ternyata masih ‘jauh panggang dari api’. Yang kita lihat selama ini adalah Kepala Daerah yang tunduk kepada partai, mementingkan kepentingan sekelompok orang atau golongan, dan tidak mendengarkan aspirasi rakyat. Akibatnya kesejahteraan rakyat masih bukan menjadi prioritas utama, kesejahteraan hanya dijual pada saat kampanye untuk mendapatkan simpati pemilih.

Sunday, August 14, 2011

JADIKAN PERBAIKAN JALAN PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH

Tulisan Pernah dimuat di Harian Rakyat Bengkulu Edisi Jum'at  3  November 2010

Jalan Utama di Kawasan Pasar Panorama
Kondisi kerusakan jalan di Provinsi Bengkulu yang sudah sedemikian parah seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah. Selain karena tonase yang berlebih, kerusakan jalan ini juga terjadi karena usia jalan-jalan di Bengkulu yang memang sudah seharusnya diperbaharui. Akibatnya, terjadilah kerusakan berupa lubang-lubang besar, aspal yang terkelupas, longsor, abrasi dan berbagai macam kerusakan lain yang menyebabkan hak masyarakat sebagai pengguna jalan telah dilanggar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa jalan sebagai sarana transportasi utama di Provinsi Bengkulu juga menjadi faktor utama penguat perekonomian daerah. Karena distribusi barang dari dan keluar daerah Bengkulu sebagian besar masih dilakukan lewat jalur darat. Begitu juga dengan arus transportasi angkutan penumpang. Meskipun sudah banyak penerbangan dari dan ke Bengkulu, pada kenyataannya transportasi darat masih lebih banyak digunakan karena lebih ekonomis untuk ukuran masyarakat Bengkulu.

REVITALISASI PASAR TRADISIONAL CIPTAKAN PASAR RAPI DAN NYAMAN

Tulisan Pernah dimuat di Harian Rakyat Bengkulu tanggal 14 November 2010

Keberadaan Pasar Tradisional di Bengkulu masih sangat berperan dalam mengerakan ekonomi kerakyatan. Di tengah maraknya Minimarket dan Pasar Modern yang bermunculan, pada kenyataannya keberadaan pasar tradisional masih menjadi pilihan utama sebagian besar warga Bengkulu. Terbukti, semakin hari keberadaan pedagang dan pembeli di Pasar Tradisional semakin memenuhi badan jalan sehingga berdampak pada kemacetan dan kondisi pasar yang semrawut.


Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, penataan Pasar Tradisional menjadi salah satu kewenangan dan hal vital yang harus diperhatikan Pemerintah Daerah mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kota (Pasal 2 ayat 1). Penataan ini harus dilakukan secara terstruktur dan berkesinambungan sehingga dapat diciptakan kondisi pasar yang bersih, sehat (hygienis), aman, tertib dan adanya ruang publik yang nyaman bagi penjual maupun pembeli (Pasal 2 ayat 2).

Ditengah perkembangan daerah seperti sekarang, maka kendala yang sering ditemui dalam hal penataan pasar yaitu lokasi yang tidak memadai. Bagaimana mungkin para pedagang akan tertata dengan rapi kalau lapak-lapak tidak disediakan, kalaupun ada harganya mahal dan mustahil bisa dijangkau oleh pedagang kecil. Belum lagi banyaknya pungli yang diluar pungutan resmi sehingga makin memberatkan pedagang kecil. Persoalan semakin rumit dengan banyaknya sampah limbah pasar yang berserakan dan menimbulkan aroma tak sedap di kawasan pasar tradisional.

KEMBANGKAN POTENSI WISATA PETUALANGAN BENGKULU

Bukit Kaba
Salah satu potensi wisata yang masih belum digarap secara maksimal oleh Provinsi Bengkulu yaitu wisata petualangan. Kondisi Geografis Bengkulu yang dilalui Bukit Barisan dan tepat berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia menjadikan Bengkulu memiliki lokasi-lokasi wisata petualangan yang sangat layak untuk dipromosikan bagi petualang-petualang lokal bahkan mancanegara.

Jika kita mengacu kepada kota-kota lain di Indonesia yang telah lebih dulu berhasil dalam pengembangan wisatanya, maka bisa dipastikan di daerah tersebut terdapat wisata alam khususnya wisata petualangan yang berkembang pesat dan menjadi pemicu perkembangan industri pariwisata daerahnya. Contohnya saja di Pulau Bali. Di sini wisatawan datang untuk Surfing (berselancar) di tengah ombak-ombak tinggi yang terkenal di seluruh di dunia. Selain Surfing, Bali juga dikenal dengan kegiatan Rafting (Arung Jeram) di sungai Ayung. Terdapat juga aktifitas Mountaineering (Pendakian Gunung), Diving (Menyelam) Snorkeling (Selam permukaan), Bongie Jumping, dan masih banyak sekali wisata petualangan yang tersedia di salah satu kota tujuan wisata Dunia ini.

Dendam Tak Sudah Nan Menawan Hati

Jika anda ingat kisah Romeo And Juliet yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup karena cinta mereka yang tidak direstui, konon peristiwa yang sama juga pernah terjadi di kota Bengkulu ini. Namun kali ini cara mereka mengakhiri hidup sedikit berbeda, kalau Romeo & Juliet meminum racun, sepasang muda-mudi Bengkulu ini memilih untuk mengakhiri hidup mereka dengan menceburkan diri ke Danau, inilah yang konon menjadi cikal bakal nama Danau Dendam Tak Sudah (DTS) yang berada di kawasan Cagar Alam Dusun Besar Kota Bengkulu.


Tapi itu baru satu cerita. Cerita lain yang menurut penulis lebih bisa diterima bahwa dulunya Danau ini sengaja dibuat untuk mencegah mengalirnnya air laut ke darat dengan membuat penampangnya. Karenanya lokasi danau ini hanya sekitar 2km saja dari bibir pantai. Selain itu konon, pada zaman penjajahan, Belanda pernah membangun DAM (Bendungan) agar lebih tertata dan tidak mudah meluap yang dapat mengakibatkan banjir. Setelah masa kemerdekaan, Dam ini menjadi terbengkalai dan sering disebut oleh warga sekitar sebagai DAM Tak Sudah. Nama inilah yang kemudian berkembang menjadi Dendam Tak Sudah. Kenapa kata "DAM" menjadi "Dendam"? biarlah sejarah yang menyimpannya. Yang pasti nama ini justru mengundang rasa ingin tahu orang lain yang belum pernah berkunjung ke Danau ini.